Jumat, 14 Januari 2011

fonologi bahasa indonesia

BAB I
FONETIK

A.    FONETIK DAN BIDANG KAJIANNYA
1.    Fonetik Fisiologis
    Adalah suatu bidang ilmu oengetahuan yang mengkaji tentang fungsi fisiologis manusia (Liberman, 1977 : 3). Seseorang yang ingin mengkaji bunyi-bunyi behasa harus mengetahuai juga berbagai struktur mekanisme peraturan, memehami fungsi setiap mekanisme tersebut, dan peranan nya dalam menggasilkan berbagai bunyi behasa (Singh dan Singh, 1876 : 2). Fonetik yang menkaji tentang penghasilan bunyi-bunyi bahasa berdasarkan fungsi mekanisme bologis organ tutur manusia di namakan fonetik fidiologis.
2.    Fonetik Akustik
    Kajian fonetik akustik bertumpu pada struktur fungsi bunyi-bunyi bahasa dan bagaiman alat pendengaran manusia memberikan reaksi kepada bunyi-bunyi bahasa yang di teriman (Mallberg, 1963 : 1).ada tiga ciri untama bunyi-bunyi bahasa fonetik akustik, yaitu frekuensi, tempo, kenyaringan.
3.    Fonetik Audiotoris Atau Fonetik Persepsi
    Kajian ini meneliti bagaimana seorang pendengar menanggapi bunyi-bunyi yang di terima sebagai bunyu-bunyi yang perlu dip roses sebagai bunyi-bunyi bahasa bermakna, dan apakah cirri bunyi-bunyi bahasa dianggap penting oleh pendengar dalam usaha untuk membedakan setiap bunyi bahasa yang di dengar (Singh dan Singh, 1976, 5).
B.    KETIDAK LANCARAN BERUJAR YANG TERKAIT DENGAN KAJIAN FONETIK
1.    Kagagapan (Stuttering)
    Menurut Ainsworth (1975), gagap merupakan salah satu permasalahan yang berhubungan dengan ketidak lancaran ketika berbahasa, yang di alamai oleh seorang penutur. Cirri-ciri kegagapan adalah :
"    Pemandekan (atau kemendekan) merujuk kapada ketidak mampuan penutur untuk menggerakan atau mengawali gerak articulator-artkulator pertuturan untuk menghasilkan suatu perkataan yang di kehendaki.
"    Pemanjangan merujuk kepada keadaan memanjangkan bunyi dalam jangka waktu yang lebih lama di bendingkan dengan jangka waktu normal.
"    Pengulangan merujuk pada keadaan mengulang secara berturut-turut bunyi-bunyi tertentu dala suku kata, frase atau kalimat ketika d ujarkan dalam suatu percakapan.
2.    Kelumpuhan Saraf Otak (Cerebol Palsied)
    Istilah "kelumpuhan otak" merujuk pada kecederaan di bagian tengah system nervours otak manusia, yang mengakibatkan proses arahan dan perpisahan dari otak ke saraf penggerek yang mendorong pergerakan anggota tubuh sangat lemah bahkan tidak berfungsi (Mysak, 1990 : 499-500). Dalam kasus ini, fonetisi berusaha membantu penutur yang mengalami kelumpuhan saraf otak ini untuk berlatih menggerakan artikulator-artikulator ke posisi yang tepat sesuai dengan bunyi bahasa yang di hasilkan.
3.    Belahan Langit-Langit Mulut
    Berdasarkan pemahaman tentang keadaan articulator dan titik artikulasi serta tekanan dan aliran rongga mulut/hidung, penutur yang mempunyai belahan lengit-langit mulut ini, ahli fonetik bias mencoba membantu memperbaiki kualitas bunyi yang di hasilkan.
4.    Rusak Pendengaran (Hearing Impaired)
    Penutur yang mempunyai kualitas pendengaran yang rendah berkemngkinan gagal untuk mengenal dengan beik bunyi-bunyi yang berfrekuensi tinggi, misalnya bunyi [s] dan [f]. karena itu dia akan menghadapi masalah ketika memahai perkataan dalam suatu ujaran yang mengandung bunyi-bunyi yang berfrekuensi tinggi tersebut. (Thomas dan Carmach, 1990 : 24).
C.    BEBERAPA TOKOH ILMU FONETIK
1.    Bertil Malmberg
Seorang fonetisi Prancis, mendefinisikan fonetik sebagai pengkajian bunyi-bunyi bahasa.
2.    J.D. O'Connor
Fonetik ialah ilmu yang bersangkut paut dengan bunyi-bunyi ujar yang di hasilkan oleh alat ucap manusia.
3.    David Abercromcie (1971)
Fonetik ialah ilmu yang bersifat teknis.
D.    SKOP (BIDANG CAKUPAN), TUGAS, DAN TANGGUNG JAWAB FONETISI
    Fonetisi lebih berminat untuk melihat bagaimana pergerakan udara di hubungkan dengan pergerakan organ-organ pertuturan dan koordinasi semua pergerakan ini sehingga menghasilkan bunyi. Yan g di perhatikan fonetisi adalah pergerakan lidah, rahang, bibir, dan sebagainya ketika menghasilkan bunyi bahasa dengan bentuk alat sinar-X.





BAB II :
FONETIK :
TAHAPAN KOMUNIKASI PROSES PEMBENTUKAN TRANSKRIPSI FONETIS

A.    TAHAPAN KOMUNIKASI
    Fonetik adalah cabang ilmu fonologi yang memandang bunyi baasa sebagai fenomena alam. Perubahan tekanan udara yang di akibatkan oleh gerakan alat ucap tadi, menimbulkan gelombang bunyi yang merambat keluar dari alat ucap O1 oleh hambatan udara menuju kea lat pendengaran O2. Posisi gelombang bunyi yang berada antara alat ucap O1 dan O2 ini di sebut tahap akustik.
    Berdasarkan skema dan perjalanan tersebut bias di ketahui bahwa yang menjadi cakupan fonetik adalah tahap fisiologis (yaitu ketika O1 memproduksi bunyi), tahap akustik (yaitu ketika gelombang bunyi bergerak dari alat ucap O1 menuju kea lat ucap O2), dan tahap fisiologis (yaitu ketika gelombang bunyi di dengar oleh alat dengar O2 sebagai bunyi). Tahap lingustik pada O1 dan O2 tidak ermasuk dalam bahasa fonetik kerena sudah menyangkut neurologi (khususnya neorolingustik). Ada dua simpulan dari telaah fonetik akustik yang bias di pahami berkaitan dengan bunyi, yaitu sebagai berikut :
1.    Bunyi-bunyi yang di hasilkan oleh alat ucap menusia merupakan satu kontinum, yaitu satu kesatuan eaktu tertentu.
2.    Bunyi-bunyi yang di hasilkan oleh alat ucap menusia selalu bervariasi, tidak ada yang mempunyai kesamaan total, walaupun di ucapkan oleh alat ucap yang sama.
B.    PROSES PEMBENTUKAN BUNYI
1.    Arus udara
    Arus udara menjadi sumber energy utama bagi pembntukan bunyi bahasa merupakan hasil kerja alat atau organ tubuh yang di kendalikan oleh otot-otot tertentu atas perintah saraf-saraf otak. Dengan demikian arus udara tidak muncul dengan sendirinya, tetapi diciptakan saraf-saraf otot tertentu ; apakah saraf menuju keluar dari paru-paru (arus udara egresif), arau arus udara ke dalam atau menuju paru-paru (arus udar ingresif).
2.    Pita suara
    Pita suara merupakan sumber bunyi. Tenggorokan yang terletak di atas pta suara, rongga mulut, dan rongga hidung, berperan sebagai resonator atau peninggi bunyi yang di ciptakan oleh pita suara.
3.    Alat-alat ucap
a.    Komponen supraglotal
Ini terdiri atas tiga rongga yang berfungsi sebagai lubang resonasi dalam pembentukan bunyi, yaitu :
"    Rongga kerongkongan yang terletak di atas laring ini merupakan tabung dan bagian atasnya bercabang dua, yang berwujud rongga mulut dan hidung.
"    Rongga hidung mempunya bentuk dan di mensi yang reatif teap tetapi dalam kaitannya dengan pembentukan bunyi mempunyai fungsi sebagai tabung resonasi.
"    Rongga mulut merupakan rongga yang penting di antara ketia rongga yang ada pada supragtotal.
b.    Komponen laring
Berfungsi sebagai klep yang mengatur arus udara antara paru-paru, mulut, dan hidung. Kinerja pita suara di laring yang mengakibatkan penggolongan bunyi bahaa menjadi bunyi bersuara (hidup) dan unyi tidak bersuara (mati), perbedaannya terletak pada ada tidaknya gerakan buka tutup pita suara ketika pembentukan bunyi.
c.    Komponen subgtotal
Komponen ini terdiri atas paru-paru kiri dan kanan, saluran bronchial, dan saluran pernapasan (trakea). Fungsi utama komponen ini adalah untuk bernapas, yaitu mengaliri udara dari dan ke paru-paru. Pengaliran udara yang bergantian arah (ke dalam dan ke luar) ini di sebut oleh berkembang kempisnya kedua paru-paru yang berongga.
C.    TRANSKRIPSI FONETIS
    Adalah perekaman bunyi dalam bentuk lembung tulis. ;ambang bunyi atau lambang fonetis (phonetic symbol) yang sering di pakai adalah lmbang bunyi yang di tetapkan oleh the international phonetic association (IPA).


BAB III :
KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL DAN DESKRIPSI BUNYI SEGMENTAL BAHASA INDONSIA

A.    DASAR KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL
1.    Ada tidaknya gangguan
    Adalah ada tidaknya penyempitan atau penutupan yang di lakukan oleh alat-alat ucap atau arus udara dalam pembentukan bunyi. Bunyi dapat di kelompokan menjadi dua, yaitu :
a.    Bunyi vokaid, yaiyu bunyi yang di hasilkan tanpa melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi. Ketika bunyi itu di ucapkan, yang di atur hanyalah ruang resonasi [ada rongga mulut melalui pengaturan posisi lidah dn bibir.
b.    Bunyi kontaid, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi. Bunyi-bunyi kontoid ini lebih benyak jenisnya bila d bandingkan dengan bunyi-bunyi vokaid, seiring dengan benyak jenis artikulaor yang terlibat dalam upaya penyempitan atau penutupan ketika bunyi itu di ucapkan.
2.    Mekanisme udara
    Adalah dari mana datangnya udara yang menggerakan pita suara sebagai sumber bunyi. Bunyi-bunyi bahasa bias di hasilkan dari tiga kemungkinan mekanisme udara, yaitu :
a.    Mekanisme udara pulmonis, yaitu udara dari paru-paru menuju ke luar.
b.    Mrkanisme udara laringal atau faringan, yaitu udara yang dating ladi laring dan faring.
c.    Mekanisme udara oral. Yaitu udara dating dari mulut.
3.    Arah udara
    Dilihat dari arah udara ketika bunyi di hasilkan, bunyi dapat di kelompkan menjadi dua, yaitu :
a.    Bunyi egresif, yaitu bunyi yang di hasilkan dari arah udara menju ke luar melalui rongga mulut atau rongga hidung.
b.    Bunyi inggresif, yaitu bunyi yang di hasilkan dari arah udara masuk ke dalam paru-paru.
4.    Pita suara
    Di lihat dari bergetar tidaknya pita suara ketika bunyi di hasilkan, bunyi dapat di kelompokan menjadi dua, yaitu :
a.    Bunyi mati atau bunyi tak bersuara, yaitu bunyi yang di hasikan dengan pita suara tidak melakukan gerakan membuka dan menutup sehingga gerakan tidak signifikan.
b.    Bunyi hidup atau bunyi bersuara, yaitu bunyi de hasilkan dengan pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup secara cepat sehingga bergetar secara signifikan.
5.    Lubang lewatan udara
    Dilihat dari lewatnya udaara ketika bunyi di hasilkan, bunyi dapat di kelompokan menjadi tiga, yaitu :
a.    Bunyi oral, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara udara keluar melalui rongga mulut, dengan menutupkan velik pada dinding faring.
b.    Bunyi nasa, adalah bunyi yang di hasilkan dengan keluar melalui rongga hidung, dengan menutup rongga mulut dan membuka velik lebar-lebar.
c.    Bunyi sengau, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara udara melalui rongga mulat dan rongga hidung, dengan membuka velik sedikit.
6.    Mekanisme artikulasi
    Adalah alat ucap mana yang berkerja atau bergerak ketika menghasilkan bunyi bahasa. Berdasarkan criteria ini, bunyi dapat di kelompokan sebagai berikut :
a.    Bunyi bilabial, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan bibir (labium) atas.
b.    Bunyi labio-dental, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan gigi (dentum) atas.
c.    Bunyi apiko dental, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gigi (denrum) atas.
d.    Bunyi apiko-alveolar, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gusi (alveolum) atas.
e.    Bunyi lamino-palatal, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatan tengah lidah (lamina) dan langit-langit kertas (palatum).
f.    Bunyi dorso-velar, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatan pengkal lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
g.    Bunyi (dorso)-uvelar, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan anak tekak (uvula).
h.    Bunyi laringal, yaitu bunyi yang di hasilkan leh keterlibatan tenggorokan (laring)
i.    Bunyi glottal, yaitu bunyi yang di hasilkan oleh keterlibatab lubang aau celah (glottis) pada pita suara.
7.    Cara gangguan
    Di lihat dari cara gangguan arus udar oleh articulator ketika bunyi di ucapkan, bunyi dapat di kelompokan sebagai berikut :
a.    Bunyi stop (hambt), yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara arus udara d tutup rapat sehingga terhenti seketika, lalau di lepas kembali secara tiba-tiba.
b.    Bunyi kontinum (alir), kebalikan dari bunyi stop.
c.    Bunyi afrikaltif (paduan), yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara arus udara di tutup rapat, tetapi kemufian di lepas secara berandur-ansur.
d.    Bunyi frekuatif (geser), yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara arus udara di hambat sedemikian rupa sehingga udara tetap dapat keluar.
e.    Bunyi tril (getar), bunyi yang di hasilkan dengan cara arus udara di tutup dan di buka berulang-ulangsecara cepat.
f.    Bunyi lateral (samping), yaitu bunyi yang di asilkan dengan cara arus udara di tutup sedemikian rupa sehingga udara masih bias keluar melalui salah satu atau ke dua sisi-sisinya.
g.    Bunyi nasal (hidung), yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara arus udara yang lewat rongga mulut di tutup rapat, tetapi arus udara di alirkan melalui rongga hidung.
8.    Tinggi rendah lidah
    Dilihat dari tinggi rendah lidah ketika bunyi itu di ucapkan, bunyi dapat di kelompokan menjadi empat, yaitu :
a.    Bunyi tinggi, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara posisi lidah meninggi, mendaki langit-langit keras.
b.    Bunyi agak tinggi, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara posisi lidah meningi, sehingga agak medaki langit-langit keras.
c.    Bunyi tengah, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara posisi lidah di tengah.
d.    Bunyi agak rendah, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara posisi lidah agak merendah, sehingga agak menjauhi angit-langit keras.
e.    Bunyi rendah, yaitu bunyi yang di hasilkan dengan cara posisi lida merendah sehingga menjauh dari langit-langit keras.
9.    Maju-mundurnya lidah
    Di lihat dari maju-mundurnya lidah ketika buyi di ucapkan, bunyi dapat di kelompokan menjadi tiga, yaitu :
a.    Bunyi depan
b.    Bunyi pusat
c.    Bunyi belakang
10.    Bentuk bibir
    Di lihat dari bentuk bibir ketika bunyi di ucapkan, bunyi di kelompokan menjadi dua, yaitu :
a.    Bunyi bulat
b.    Bunyi tidak bulat
B.    DESKRIPSI BUNYI SEGMENTAL BAHASA INDONESIA
    Bunyi segmental, baik vokoid maupun kontoid, yang di ucapkan oleh penutur bahasa Indonesia sagat  variatif, apabila setelah di terapkan dalam berbagai distribusi dan lingkungan.

BAB IV
KLASIFIKASI BUNYI SUPRASEGMENTAL, BUNYI PENGRING, DIFTONG, KLUSTER, SILABA.

A.    BUNYI SUPRASEGMENTAL
Bunyi-bunyi suprasegmental di kelompokan menjadi empat jenis, yaitu :
1.    Tinggi-rendah (nada, tona, pitch).
    Ketika bunyi-bunyi segmental di ucapkan selalu melibatkan nada, baik neda tinggi, sedang, atau rendah. Hal ini di sebabkan oleh adanya factor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara ketika bunyi itu di ucapkan.
2.    Keras-lemah (tekanan, aksen, stress)
    Ketikak bunyi-bunyi segmental di ucapkan pun tidak pernah lepas dari keras arau lemahnya bunyi. Hal ini di sebabkan oleh keterlibatan energy otot ketika bunyi itu di ucapkan.
3.    Panjang-pendek (durasi, duration)
4.    Kesenyapan (jeda, juncture)
B.    BUNYI PENGIRING
    Bunyi-bunyi pengiring dapat di kelompokan sebagai berikut :
a.    Bunyi ejektif, yaitu bunyi sertaan yang di hasilkan dengan cara glottis di tutup sebelumnya dan sewaktu bunyi utama di ucapkan, sehingga ketika glottis di buka terdengar bunyi global.
b.    Bunyi klik, yaitu bunyi sertaan yang di hasilkan dengan cara lidaj belakang menempel rapat pada velum sebelum dan sewaktu bunyi utama di ucapkan, sehingga ketika menempel pada velum di lepas terdengar bunyi.
c.    Bunyi aspirasi, yaitu bunyi sertaan yang di hasilkan dengan cara arus udara yang keluar lewat mulut terlalau keras sehingga terengar bunyi.
d.    Bunyi eksplosif (bunyi lepas), yaitu bunyi sertaan yang di hasilkan dengan cara arus udara di lepaskan kembali setelah di hambat total.
e.    Bunyi retrofleksi,
f.    Bunyi labialitas
g.    Bunyi palatalisasi
h.    Bunyi glotalisasi
i.    Bunyi nasalisasi
C.    DIFTONG DANK LUSTER
1.    Diftong
    Dalam bunyi diftong terdapat dua macam, yaitu :
a.    Diftong menurun (falling diphthong),
b.    Diftong menaik (rising diohtong),
2.    Kluster
Dalam bahasa-bahasa tertentu, bunyi kluster atau konsonen rangkap ini merupakan bagian dari struktur fonetis atau fonotaktis yang di sadari oleh penuturnya.
D.    SILABA (SUKU KATA)
    Sebelum alphabet lahir, system penulisan didasarkan atas suku kata ini, yang di sebut tulisan silabari. Untuk memahami tentang suku kata ini, para linguis atau fonrtisi berdasarkan pada dua teori, yaitu : teori sonoritas dan teori prominans.

BAB V
FONEMIK : FONEM, DASAR, PROSEDUR ANALISIS
A.    DEFINISI FONEM DAN JENISNYA
    Fonem adalah kasatuan bunyi terkecil suatu bahasa yang berfungsi membedakan makna.
B.    DASAR-DASAR ANALISI FONEM
    Dasar analisis fonem adalah pokok-pokok pikiran yang di pakai sebagai pegangan untuk menganalisis fonem-fonem suatu behasa. Kerena pokok-pokok pokiran tentang bunyi ini berbentuk pernyataan-pernyataan yang lumrah atau maklum sehingga tidak perlu di persoalkan lagi, maka pokok-pokok pikiran itu bias di sebut premis-premis.
C.    PROSEDUR ANALISIS FONEM
1.    Mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis.
2.    Mencatat bunyi-bunyi yang ada dalam korpus data ke dalam peta bunyi.
3.    Memasangkan bunyi-bunyi yang di curigai karena mempunyai kesamaan fonetis.
4.    Mencatat bunyi-buyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaan fonetis.
5.    Mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer.
6.    Mencatat bunyi-bunyi yang berfariasi bebas
7.    Mencatat bunyi-bunyi yang brkontras dalam lingkungan yang sama (identitas)
8.    Mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip (analogis).
9.    Mencatat bunyi-bunyi yang berubah kerena lngkungan.
10.    Mencatat bunyi-bunyi dalam inventori fonetisdan fonemis.
11.    Mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi.
12.    Mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri.

BAB VI
KLASIFIKASI, DISTRIBUSI, REALISASI FONEM BEHASA INDONESIA

A.    KLASIFIKASI FONEM BAHASA INDONESIA
    Klasifikasi ini di dasarkan pada pola pengklasifikasian bunyi yang biasa di lakukan oleh fonetisi.
B.    DISTRIBUSI FONEM BAHASA INDONESIA.
    Distribusi fonem, parera (1983 : 38-40) tidak hanya berfokus pada lingkungan silaba atau suku kata, tetapi juga pada lingkungan tutur, kata, morfem, dan unsur suprasegmental.
C.    REALISASI FONEM BAHASA INDONESIA
    Penelitian fonem behasa indonesi yang dilakukan oleh para ahli bahasa atau linguis kita didasarkan atas korpus data yang beragam. Ada yang di dasarkan pada hasil transkripsifonetis dari kata-kata bahasa Indonesia asli, dan ada pula yang di dasarkan pada hasil transkripsi fonetis dari kata-kata yang di pakai oleh penutur bahasa indonesi masa kini.
D.    FONEM DAN GRAFEM BEHASA INDONESIA
    Grafem atau system pelambangan bunyi-alih-alih dsebut system ejaan - ini ada dua macam, yaitu grafem yang mengikuti system fonetisdan grafem yang mengikuti system fonemis. Grafem yang mengikuti system fonetis - lebih popular di sebut ejaan fonetis - ini melambangkan bunyi-unyi yang di ucapkan penutur dalam bentuk huruf. Oleh karena itu jumlah bunyi yang di lambangkan relatife lebih banyak dari jumlah hruf yang terdapat dalam alphabet.


BAb VII
CIRI-CIRI PROSODI ATAU SUPRASEGMENTAL DALAM BAHASA INDONESI.

A.    NADA
    Dalam penturan bahasa Indonesia, tinggi rendahnya (nada) suara tidak fngsional atau tidak membedakan mekana. Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan pembedaan, neda dalam bahasa indinesia tidak fonemis.
B.    TEKANAN
    Tekanan dalam tuturan bahasa Indonesia berfungsi membedakan maksud dalam tataran kalimat (sintaksis), tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis).
C.    DURASI
    Durasi atau panjang pendeknya ucapan dalam bahasa idonesia tidak fungsional dalam tataran kata, tetapi fungsional dalam tataran kalimat.
D.    JEDA
    Jeda atau kesenyapan ini terjadi di antara dua bentuk lingustik, baik antar kalimat, anar frase, antara kata, antara morfe, antar silaba, mapun antar fonem.
E.    INTONASI
    Intonasi dalam bahasa Indonesia sangat berperan penting dalam pembentukan maksud kalimat. Bahkan dengan dasar kajia pola-pola intonasi ini, kalimat bahasa Indonesia di bedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat Tanya (introgatif), dan kalimat perinta (imperatife).

BAB IX
PERUBAHAN BUNYI DALAM BAHASA INDONESIA

A.    ASMILASI
    Asmilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama. Hal ini terjadi karena bunyi-bunyi bahasa itu di ucapkan secara berurutan sehingga berotensi untuk saling mempengaruhi atau di di pengaruhi.
B.    DISIMILASI
    Dismilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi bunyi yang tidak sama atau berbeda.
C.    MODIVIKASI VOKAL
    Modivikasi vocal adalah perubahan bunyi vocal sebagai akibat dari pengaruh bunyi lain yang mengikutiya.
D.    NETRALISASI
    Adalah perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengaruh lingkungan.
E.    ZEROSASI
    Zerosasi adalah penghilangan bunyi fonemis akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan.
F.    METATESIS
    Metatesis adalah urutan bunyi fonemis pada suatu kata sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing.
G.    DIFTONGISASI
    Adalah perubahan bunyi vocal tunggal (monoftong) menjadi dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) secara berurutan.
H.    MONOFTONGISASI
    Adalah perubahan dua bunyi vokal rangkap ( diftong menjadi vokal tunggal (monodiftong).
I.    ANAPTIKSIS
    Adalah perubahan bunyi dengan jalan menambah bunyi vokal tertentu di antara dua konsonan untuk memperlancar ucapan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar